Skip to content

Pelatihan Pertanian Alami

Juni 24, 2010

bersama Mr Cho Han Kyu/koleksi pribadi

Tanggal 10 – 14 April yang lalu, saya mengikuti pelatihan pertanian alami yang diadakan oleh bina desa. Pemateri utamanya adalah Mr. Cho Han Kyu dari Natural Farming Korea. Utamanya, saya ingin mengetahui lebih banyak lagi mengenai cara tanam metode organik atau alami. Karena menurut Mr Cho, dengan metode alami, kita tak perlu lagi membajak sawah dengan mesin traktor.

Hingga saat ini, sawah di tempat saya bertani organik masih dibajak menggunakan mesin traktor. Biaya sewanya lumayan menambah ongkos produksi. Selain itu, menggunakan traktor bukan “tren” pertanian organik. Sebab masih ikut menyumbangkan karbondioksida dan gas polutan lain ke udara. Sementara itu, metode pertanian alami memungkinkan kita agar dapat membajak sawah hanya menggunakan tenaga hewan dan menyumbang pupuk kandang ke atas lahan.

Prinsip yang saya pelajari antara lain; perlakukan tanah sebagaimana mestinya. Sesuai dengan “kodrat” alamiahnya. Tanah, merupakan kumpulan beragam materi organik, anorganik, serta mikroorganisme dan organisme tanah yang saling berinteraksi. Keseluruhan materi yang beragam ini tetap dijaga jumlah dan keberagamannya. Agar tanah tetap gembur dan subur.

Untuk menjaga kesuburan tanah, “natural farming” ala Mr Cho mengajarkan agar petani memproduksi sendiri “pupuk” nya. Tiap daerah dan tiap lahan memiliki mikroorganisme-nya masing-masing. Mikroorganisme lokal inilah yang memperkaya zat hara tanah. Selain itu, juga perlu ditambahkan mikroorganisme dari tempat lain (misal hutan bambu atau hutan tropis) untuk menambah “kekayaan” tanah.

Keberlanjutan atau kontinuitas untuk tetap menggunakan pupuk organik adalah yang terpenting dalam pertanian organik. Karena itu, petani organik memang harus lebih telaten dan rajin agar mendapat hasil yang optimal. Pertanian alami atau organik bukan semata-mata mengenai kuantitas, yang utama adalah kualitas. Tentu agar ketersediaan pangan tetap ada di kemudian hari.

Selain tanah, air juga mendapat perlakuan khusus. Karena air adalah sumber kehidupan bagi tanah dan tanaman. Air yang mengandung mineral dan oksigen yang banyak adalah yang terbaik. Tidak hanya bagi manusia, tapi juga bagi tanaman. Karena itu, dengan teknik tertentu (meniru apa yang ada di alam) air untuk pengairan sawah diperlakukan seperti air terjun. Agar jumlah oksigen dan mineral di air meningkat. Air seperti ini adalah kondisi yang terbaik dalam “Natural Farming”.

Melalui pelatihan yang diadakan di Padang ini, saya dapat mengetahui bagaimana suatu lahan dapat dijaga kegemburannya. Tanpa harus dibajak mesin traktor tiap musim tanam. Dan kini saya tahu, bagaimana air diperlakukan agar berpengaruh pada kesuburan tanaman. Meskipun masih belum tahu bagaimana teknik aplikasinya di lahan sendiri.

Karena bertemu narasumbernya langsung, saya juga jadi tahu beberapa prinsip lain dalam “Natural Farming”. Termasuk beternak ayam, kambing, sapi, dan ternak lainnya. Tentu saja hasil dari diskusi dan sharing dari petani lainnya. Menambah pengetahuan saya dalam budidaya organik dan meningkatkan kualitas pangan dan lingkungan tentunya.🙂

Pelatihan Pertanian Alami, 10-14 April 2010, Bukittinggi, Padang / koleksi pribadi

No comments yet

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: